Bagaimana Menyambut Tahun Baru Islam 1432 H, Natalan dan Tahun Baru 2010 M

Bagaimana Menyambut

Tahun Baru Islam 1432 H, Natalan dan Tahun Baru 2010 M

Oleh : Rusman Ahmadi ST., S.Pd.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran(Q.S. Al Ashr)


Pemakaian Miladiyah setelah lima abad wafatnya Nabi Isa a.s. (tahun 532). Tujuan Tahun Masehi atau Miladiyah untuk memperingati Pemimpin Agama Nabi Isa yang penentuannya sangat melenceng (bila didasarkan pada penjelasan Al qur’an). Sampai saat ini seluruh dunia mengikuti persepsi yang keliru, karena Nabi Isa tidak dilahirkan 25 Desember tahun 00. Sampai saat ini tidak ada yang dapat memastikan dengan sesungguhnya, tanggal berapa nabi Isa lahir dan kapan wafatnya secara tepat. Maka tanggal 25 Desember yang oleh seluruh dunia diyakini sebagai hari kelahiran Nabi Isa a.s. adalah kebohongan dunia yang paling besar, sehingga seluruh dunia tertipu dan mengikutinya.

Sedangkan penanggalan Islam atau Hijriyah adalah mulai hijriahnya Nabi Muhammad saw. sedangkan pemakaian penanggalan Hijraiyah dipakai sejak Nabi Muhammad saw masih hidup dan diresmikan di zaman khalifah Umar bin Khattab. Ditetapkannya peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai awal tahun dari penanggalan atau kalender Islam, mengandung beberapa hikmah yang sangat berharga bagi kaum muslimin, diantaranya:

Pertama, perisitwa hijrah Rasululah dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki majna yang sangat berarti bagi setiap muslim, karena hijrah merupakan tonggak kebangkitan Islam yang semula diliputi suasana dan situasi yang tidak kondusif di Makkah menuju suasana yang prospektif di Madinah.

 

Kedua, Hijrah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa opimisme yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal-hal yang buruk kepada yang baik, dan hijrah daru hal-hal yang baik ke yang lebih baik. Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara dan harta benda.

 

Ketiga, Hijrah mengandung semangat persaudaraan, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW pada saat beliau mempersaudarakan antara kaum muhajirin dengan kaum anshar, bahkan beliau telah membina hubungan baik dengan beberapa kelompok yahudi yang hidup di Madinah dan sekitarnya.  http://sosbud.kompasiana.com

 

Terlepas dari perbedaan sejarah penanggalan tersebut, penulis ingin mengajak pembaca budiman untuk sama-sama bisa menjadikan  tahun baru ini sebagai sebuah momentum untuk melakukan perubahan dan pembebasan. Perubahan kearah yang lebih baik dari segala aspek dan pembebasan diri (secara mikro) serta pembebasan bangsa (secara makro) dari keterpurukan disegala bidang.

 

Hidup manusia semakin hari semakin berkurang, maka layaknya manusia yang taat pada tuhannya haruslah ia mempergunakan kesempatan hidupnya didunia ini dengan sebaik mungkin. Karna memang ajal manusia rahasia Allah. Jarum jam tidak akan pernah berbalik arah, detik demi detik berlalu hingga menit dan seterusnya, yang pada intinya perjalanan kita adalah perjalanan mendekati kematian.

 

Untuk itu, mari kita jadikan semangat tahun baru dengan selalu melakukan perubahan. Sebab tidak ada sesuatu yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan itu terjadi dengan sendirinya karena dimakan usia seperti umur suatu benda yang lama kelamaan terus berubah tanpa harus ada campur tangan manusia. Namun, perubahan perilaku manusia memerlukan ikhtiar yang diawali niat.Perubahan itu dimulai dari diri sendiri, rumah tangga dan dilanjutkan dengan lingkungan sekitar.

 

Semangat tahun  baru juga bisa kita jadikan momentum penyatuan persepsi bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kesejahteraan maupun perubahan secara kaffah (menyeluruh), membantu membebaskan penderitaan saudara – saudara kita yang sedang mendapat musibah banjir bandang di wasior, Tsunami di mentawai, musibah merapi di jogja dan wilayah sekitarnya, menyantuni fakir miskin atau mengangkat perekonimannya, melindungi dan menyantuni anak yatim dan sebagainya.

 

Banyak hal tentunya yang bisa kita lakukan untuk menjadikan tahun baru ini sebagai momentum bagi kita untuk melakukan sesuatu yang spektakuler dan bermanfaat bagi diri dan lingkungan. Maka dengan tulisan ini ada secuil harapan untuk meninggalkan (hijrah) prilaku – prilaku yang yang tidak baik dalam menyambut tahun baru ( baik tahun baru islam maupun masehi) seperti ; berfoya – foya, berpesta pora, berkumpul tanpa menghiraukan etika pergaulan islam dan sebagainya. Ahirnya mari, tahun baru Islam 1 Muharram 1432 Hijriah kita jadikan sebagai momentum untuk melakukan perubahan.

 

Natal

Ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka  kepada para Nabi yang lain, berdasarkan: Maryam: 30-32; Al Maidah:75
 

Merayakan natal berarti merayakan kelahiran Jesus sebagai Juru Selamat, bukan Jesus sebagai nabi, utusan Allah. Di sinilah salah satu perbedaan mendasar antara Islam
dan Kristen. Islam melihat Jesus sebagai seorang utusan Allah, manusia biasa (bukan anak Tuhan), yang dibekali banyak mukjizat untuk mendukung kerasulannya. Merayakan natal bersama sebagaimana difahami oleh ajaran Kristen, berarti sebuah pengakuan bahwa Jesus adalah sang Juru Selamat. Bagi orang Islam, tindakan ini adalah perbuatan syirik yang meningkari kalimat ” Laa Ilaha ilallah ” karena Sang Juru Selamat di dalam Islam adalah Allah yang Esa -tidak beranak dan tidak diperanakkan.

 

MUI sebagai kumpulan ulama punya kewajiban mengingatkan ummat Islam, dalam bentuk fatwa. Ketika pelaksanaan ajaran agama (Islam) dicampur-adukkan dengan kepercayaan agama lain, maka tugas ulama lah memberikan teguran kepada muslim. Dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:

1.      Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
2.      Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
3.      Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Swt dianjurkan untuk (dalam garis miring):tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

 

Diakhir tulisan ini, penulis sekali lagi mengajak kita semua untuk menjadikan setiap momen menjadi momentum bagi diri dan ummat. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.amin...