Penanaman Nilai-Nilai Aqidah

Penulis By Dr. Abdul Mukti, M.Ed. (Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah)   |   31 Mei 2019   |   dilihat 124 Kali

Alquran dalam banyak ayat memberikan pelajaran kita agar kita memberikan penanaman  aqidah, penegasan Lukman kepada anakanya atau Yakub kepada anaknya. Penanaman aqidah adalah tanggung jawab orang tua, bukan tanggung jawab lembaga pendidikan. Karena kemampuan dan kesempatan itu maka perlu diperkuat oleh lembaga pendidikan.  Tetapi bukan diambil alih, ini kenapa perlu tekankan, karena seringkali orang tua perpendapat kalau sudah sekolah orang tua tidak perlu lagi memberikan pendidikan agama, sudah pasrah semuanya kesekolah, itu menurut islam tidak demikian.

Peran lembaga pendidikan memperkuat apa yang ditanamkan orang tuanya, kenapa hal itu penting, sebab ada hadits nabi yang menjelaskan, setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (Islam), tapi dalam perkembangannya mereka bisa menjadi pemeluk agama yang lain atau menjadi tidak taat beragama dan itu menjadi ancaman serius pada dunia modern, ancaman degenerasi sangat kuat. Degenerasi ada dua, pertama degenerasi nasabiah, yaitu apabila seseorang tidak mempunyai keturunan,  sehingga terjadi keterputusan generasi. Itulah sebabnya dalam  islam ditekankan untuk menikah, karena tujuan pernikahan itu supaya punya keturunan. Kedua adalah degenerasi diniyah atau keterputusan generasi keagamaan.

Degenerasi diniyah bentuknya ada tiga, pertama ketika generasi kita itu masih seaqidah, masih taat beribadah, bapaknya juga tokoh dan ulama, tapi anaknya tidak melakukan perjuangan yang dilakukan orang tua. Kedua generasi yang masih seaqidah tapi anaknya sudah tidak taat lagi beribadah, masih beragama islam tapi amalan islam sudah tidak dilaksanakan. Dan yang ketiga generasi yang anak sudah tidak  seaqidah dengan orang tuanya. Generasi ini sering kali terjadi karena faktor pergaulan dan karena faktor pendidikan. Faktor orang yang pindah aqidah karena pergaulan seprofesi atau karena pernikahan, pasangan berbeda agama dan ikut agama lain. Atau karena faktor pendidikan, ini terjadi karena orang tuanya tidak memilihkan sekolah yang memberikan penanaman aqidah, akhlakul karimah dan kemampuan keilmuan dalam dunia profesional. Selain tantangan pergaulan bisa jadi karena pengaruh media, banyak mengakses informasi media juag dapat berpotensi merusak aqidah, karenalah itu tantangan itu semakin terbuka.

Untuk menanamkan agama perlu pendekatan keteladanan, khsusnya keteladanan dari orang tua. Orang tua harus mencontohkan sholat, orang tua yang tidak sholat maka akan sulit untuk menyuruh sholat karena orang tuanya tidak sholat. Proses belajar lebih dipengaruhi orang tua, kemudian pengaruh teman pergaluananya. Maka  orang tua perlu memilihkan lingkungan yang tepat untuk anak. Pada tahap awal mereka melakukan ibadah itu berdasarkan komunitasnya, yang dalam bahasa sosialoginya disebut komunel piety  artinya orang menjadi sholeh karena teman linkungannya yang sholeh, karena itu penciptaan lingkungan jadi sangat penting.

Saat ini seiring waktu pengaruh orang tua mulai berkurang, pengaruh orang tua diambil oleh guru, apa kata orang tua itu yang lebih diikuti dari pada orang tuanya. Kalau sudah remaja yang sangat berpengaruh itu pier group/ teman sepergaulan. Inilah yang menjadi sebab anak berubah, karena itu penciptaan lingkungan itu penting. Yang ketiga pengalaman-pengalaman yang bersifat keagamaan yang membuat mereka semakin dekat dengan agama, mereka minta untuk menjadi panitia, pelibatkan mereka di keniatan, sehingga mereka punya pengalam langsung, dan berbagaima macam kegiatan lainya yang mendukung.

Problem di masyarakat saat ini  adalah perilaku individualis. Sebagai contoh masyarakat dahulu jika anak saat magrib itu pasti diurusi oleh tetangganya. Saat ini mereka membiarkan saja merasa bukan anaknya, padahal sebenarnya kalau ada satu anak saja yang tidak baik, maka itu akan mempengaruhi yang lainnya. Walaupun anak kita ajarkan tutur kata yang baik, sopan santun tapi begitu bergaul dengan temannya yang tidak baik bisa rusak akhlaknya. Pendidikan dimasyarakat juga sangat penting, tapi tidak kalah penting adalah pengaruh media. anak-anak saat ini sangat tepangaruh terhadap media-media sosial, walaupun sudah kecil pengaruh media elektronik. Mereka belum mimiliki filter untuk bisa melakukan seleksi terhadap mana yang benar dan mana yang salah, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Karena itu orang tua dan guru juga perlu memiliki kemampuan menggunakan media, misalkan kalau anaknya punya faceebok orang tua kalau bisa ikut berteman, supaya dia tahu anaknya berteman dengan siapa dan dia berbicara seperti apa, karena sering kali anak dirumah bicara sopan-sopan saja, tapi saat posting di faceebok bicaranya tidak karuan. Tentu perlu ada pendampingan supaya anak-anak memiliki melek media, melek media itu bukan hanya mereka bisa menggunakan media, tapi bisa memilih, menyeleksi mana yang baik, mana yang tidak baik, mana yang benar dan mana yang salah.

Didalam dunia pendidikan, guru harus dekat dengan murid, dan kedekatannya tidak hanya kedekatan formalitas belajar, tapi perlu kedekatan diluar proses belajar. Dalam pendidikan sering dikenal istilah hiden kurikulum dan riten kurikulum. Riten kurikulum itu kurikulum yang tertulis dalam proses belajar, dan hiden  kurikulum itu pengalaman-pengalaman yang dilihat oleh siswa selama dalam proses pendidikan. Misalnya oleh guru agama diajari jujur tapi sekolah tersebut korup ini jelas tidak bisa menghasilkan anak-anak yang jujur. Diajarkan akhlak mulai tapi dilinkungan sekolah bicaranya kasar-kasar, diajarkan saling menghormati tapi buling dibiarkan, ini kan tidak boleh karena menjadi kotra produktif. Perlu ada penciptaan lingkungan yang sesuai tuntunan agama sehingga terjaga imannya terjaga akhlaknya itulah yang dalam teori belajar hiden kurikulum, tidak tertulis, tersembunyai tapi sebenarnya berpengaruh.

Agar pendidikan bisa perjalan optimal perlu komunikasi yang baik dengan orang tua. Sekolah bisa memberikan akses komunikasi yang seluas-luasnya atau orang tua boleh menghubungi gurunya kapan saja. Komunikasi jangan hanya dilakukan saat pengambilan raport dan lebih pada bersifat akademik, misalnya orang tua hanya peduli jika nilai matematika anakya kecil, tapi tidak pertanya dan peduli bagaimana sikap dan perilaku anaknya dikelas. Sinergitas antara orang tua dan guru di sekolah yang harus sama-sama mendidik inilah yang akan menghasilkan generasi yang mempunyai pemahaman agama yang baik.

Facebook

Twitter

Instagram

@sd_muh_metro
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2126789273323070", enable_page_level_ads: true });