Rihlah Cerita: Momentum Silaturahmi, Tausyiah, Hingga Pembagian Doorprize
Rihlah Cerita: Momentum Silaturahmi, Tausyiah, Hingga Pembagian Doorprize
KALIANDA-Guna mempererat tali silaturahim dan
menyegarkan semangat pengabdian, keluarga besar SD Muhammadiyah Metro Pusat
menggelar kegiatan Rihlah dan Tadabur Alam pada Ahad, 21 Juni 2026.
Berlokasi di Pantai Bagus, Kalianda, Lampung Selatan, agenda ini diikuti oleh
sekitar 150 peserta yang terdiri dari guru, karyawan, serta turut mengajak
anggota keluarga mereka masing-masing.
Kegiatan yang dikemas dengan suasana hangat dan penuh
kegembiraan (joyful) ini merupakan puncak penutupan dari rangkaian
program workshop kurikulum yang telah dilaksanakan sekolah selama empat
hari sebelumnya.
Kepala SD Muhammadiyah Metro
Pusat, Ihwan, S.Ag., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa esensi utama
dari pertemuan ini adalah memperkuat rasa kekeluargaan.
"Alhamdulillah, hari ini kita ingin seluruh guru dan karyawan melepas penat bersama keluarga, saling mengenal satu sama lain, sehingga saat berpapasan di jalan kita semua sudah saling mengenali sebagai satu keluarga besar," ujarnya.
Acara inti rihlah diisi dengan penyampaian tausyiah oleh
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Metro sekaligus mantan Kepala SD
Muhammadiyah Metro Pusat periode 1997–2006, Kustono, S.Ag.
Dalam uraian kajiannya, Kustono menyampaikan empat pesan
penting yang harus dipetik oleh seluruh guru dan karyawan, terutama para
pendidik generasi muda:
1.    Beliau
mengingatkan agar saat pertama kali memandang hamparan laut lepas, kalimat
pertama yang terucap adalah pujian kepada Allah SWT, sebagai bentuk pengakuan
atas karunia dan tanda kebesaran-Nya.
2.    Esensi
Rihlah Tarbiyah dan Tadabur Alam: Menjadikan perjalanan ini
sebagai media membaca lingkungan, mengenal karakter sesama, dan memperdalam
kedekatan antar-sejawat (ta'aruf mendalam).
3.   Â
Memahami Sejarah dan Ruh Muhammadiyah: Kustono
merefleksikan masa-masa awal perjuangan sekolah pada tahun 1988-1989 yang penuh
keterbatasan, seperti fasilitas yang minim hingga kelas yang bocor saat hujan.
Beliau berpesan agar guru-guru muda tidak sekadar bekerja, tetapi paham
sejarah. "Semakin kita paham sejarah, semakin kita memiliki keberanian
untuk mengembangkan sekolah ke depan. Tantangan hari ini bukan lagi membangun
tembok, melainkan membawa SD Muhammadiyah unggul di level internasional,"
tegasnya.
4.    Menghidupkan Budaya Tolong-Menolong (Ta'awun): Beliau mendorong dibentuknya kelompok-kelompok kecil di antara guru muda untuk saling membantu dalam perencanaan masa depan, seperti program tabungan kavlingan rumah/tanah bersama demi membangun kesejahteraan kelompok.
Setelah sesi pengajian dan makan siang bersama selesai,
suasana pantai berganti menjadi penuh riuh kepuasan saat panitia memulai sesi
pembagian door prize. Berbagai hadiah menarik yang telah disiapkan, kemudian
dilanjutkan sesi foto bersama. Setelah sesi formal selesai acara dilanjutkan
dengan nonformal ramah-ramah, diskusi, serta menikmati destinasi Pantai bagus. (ims)

